rennymasmada

aku10

Tak ada yang sempurna di dunia ini, kecuali Allah Yang Maha Besar.

Kekerdilan diri, kepicikan hati, ketidak dewasaan, mau menang sendiri, merasa paling pandai dan bersih, selalu mendahului kepentingan pribadi, curiga kepada setiap orang, selalu mencari-cari kesalahan orang lain, menghianati persahabatan, tidak ada silaturahmi, tidak mengakui kesalahan, tidak memaafkan kesalahan orang lain, berbuat tak senonoh, berhati cabul, kurang ikhlas dan legowo terhadap setiap persoalan yang menimpa diri sendiri, kurang taat pada ibadah-ibadah rutin, kurang taat berdoa kepada Allah, kurang taat memohon ampunan atas dosa-dosa, kurang mensyukuri nikmat Allah, kurang menghargai orang tua atau orang yang dituakan, kurang perhatian terhadap fakir-miskin, kurang perhatian terhadap anak yatim, kita selalu bertengkar antar kita hanya mengenai masalah uang dan harta benda dan banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu di sini telah merasuki hati kita semua, hati yang sangat kering dan gersang, hati yang tidak lagi dapat menilai mana yang benar dan salah.

Kekerdilan hati inilah yang sering memutuskan tali silaturahmi kita selama ini. Kita akhirnya menjadi budak nafsu angkara murka yang semakin berurat akar di lubuk hati sanubari kita yang paling dalam.

Allah, Yang Maha Pengasih, akhirnya hanya tersenyum di ‘atas’ sana memperhatikan kita yang sudah semakin jauh  melangkah tidak di Sirotol Mustaqim, tapi bergeser, menyimpang di jalan yang penuh onak duri, jalan yang penuh lobang dan lumpur, yang kerap menjebak kita di dalamnya. Di dalam lumpur kenistaan.

Kasih sayang, persahabatan yang kerap kita wujudkan dengan kata salam yang hangat, pelukan yang tulus bahkan pengajian setiap malam Jumat, menjadi basi dan penuh kepura-puraan.

Kita ditelanjangi oleh ketamakan kita atas kemukten pribadi dan ketamakan terhadap harta, jabatan dan harga diri yang berlebihan.

Pesan-pesan Gajah Mada, yang selama ini sering sebagai bahan acuan kita meneladani kegigihannya memperjuangkan kesatuan dan persatuan bangsa semakin pudar.

Kita semakin sadar atas kebesaran Gajah Mada yang dapat mempersatukan Nusantara Raya ini ketika kita tiba-tiba merasa bahwa untuk mempersatukan heterogenisasi yang sangat kecil ini saja, kita tidak mampu.

Kita terpecah belah! Tubuh kita bersatu, tapi hati kita tidak. Senyum dan kata-kata greetings yang kita lontarkan setiap hari hanya basa-basi. Kita hidup di dunia hipokritisasi, dunia kepura-puraan. Hati kita sudah terdegradasi dengan kekerdilan jiwa kita.

Wajah kita, mata kita, telinga kita, hidung kita, belakangan ini sangat peka untuk mencari, merasakan dan melontarkan kecurigaan dan ketidakpercayaan kepada setiap orang, kepada sahabat-sahabat yang selama ini melekat dalam susah dan duka.

Hari-hari kita semakin suram. Semakin tidak punya semangat kasih sayang, semangat untuk merasakan sakit apabila sahabat dan saudara kita sakit. Kita menjadi asing terhadap diri sahabat kita sendiri, dan bahkan tragisnya, asing terhadap diri kita sendiri.

Sedulur,

marilah kita hadapkan hati kita kepada Allah, dengan segala kerendahan hati, kita mohon ampunanNya, kita mohon ampunan seluruh keluarga dan sahabat-sahabat kita atas segala kesalahan yang disadari maupun tidak.

Sebagai makhluk yang kerap tergelincir ke lembah nista, inilah saatnya kita minta petunjukNya agar kita selamat melangkah, berjalan menyusuri hari-hari kita, menyusuri masa depan kita yang sangat panjang dan belum kita ketahui.

Kematian dapat merengut kita kapan saja, hanya kepada Allah Yang Maha Perkasa kita berlindung dan berserah diri, agar sisa hidup yang melekat pada diri kita dapat bermanfaat bagi kita dan orang banyak.

Sedulur,

Allah sudah membukakan kemudahan kepada kita semua atas apa saja yang menjadi kesulitan kita, insyaAllah di hari-hari mendatang, Allah memberikan yang lebih baik lagi, setidaknya kita semakin cerdas memahami kekurangan kita.

Mari kita lepaskan semua ganjalan yang ada di hati kita semua. Kita musyawarahkan semua yang menjadi hambatan dan rintangan kita.

Kita duduk melingkar dengan hati yang sangat ikhlas untuk membicarakan keberlangsungan sisa hidup kita.

Ratusan mulut menanti kita. Ratusan perut sangat tergantung dari hasil usaha kita. Ratusan masyarakat luas menunggu impact dari hasil karya kita.

Kita tidak dapat mewujudkan itu semua apabila kita tidak dapat bersatu.

Marilah segala perbedaan yang ada kita jadikan sebagai kekayaan kita yang akan membentuk kita semakin kuat. Mulailah berfikir untuk kepentingan orang lain apabila kita ingin kepentingan kita menjadi sasaran utama. Hanya dengan memikirkan orang lain kita akan membuang semua kekerdilan jiwa kita.

Sedulur,

dengan segala kerendahan hati, mari kita menyingsingkan lengan baju kita.

Untuk itu, marilah kita semua bangkit, berfikir sehat dan cerdas, lakukan segala kinerja kita secara optimal untuk bersama-sama membawa bangsa ini kembali ke kejayaan dan kemakmuran.

Jangan hancurkan bangsa ini.

Mari bersama-sama kita hadapi anasir-anasir buruk yang akan menghancurkan eksistensi negara kita. Negara yang akan membawa tidak saja keluarga kita, tapi seluruh masyarakat luas, menapaki hari-hari bahagia, meningkatkan kesejahteraan dan potensi sumber daya yang ada.

Sedulur,

marilah kita hilangkan segala kecurigaan terhadap sesama kita. Marilah kita bersatu mewujudkan kebesaran bangsa ini.

Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa dan kesalahan kita semua. Semoga Allah merahmati upaya kita ini. Jauh dari nista, maksiat, fitnah dan kezaliman.

Semoga Allah meridhoi dan mengabulkan segala langkah dan kinerja kita ini.

 Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s